Header AD

Kebodohan Yang Menjadi Bencana


Ibu muda itu meninggal melahirkan. Bersama bayi dalam rahimnya. Konon nyawa sang ibu sebenarnya bisa diselamatkan dengan operasi cesar. Namun sang suami menolak istrinya dioperasi, krn dokter yang hendak operasi laki laki. Dia tak mau aurat istrinya dilihat yang bukan mahram. Dia kokoh dengan apa yang dia paham. Dan dia tak tahu bahwa kebodohan dalam beragama itu bisa mematikan.

Ibu muda itu masih kerabat jauh saya. Maka siang itu, sepulang dari pedalaman, memanen bawang, saya melayat ke rumahnya. Ikut bela sungkawa.

Namun, baru saja saya duduk, di halaman rumah, di bawah tenda, ada seorang bapak yang berkata; "Mulai sekarang sebaiknya torang usir jamaah itu dari Touna, karena dorang, torang pe keluarga meninggal". Si bapak kemudian melihat ke arah saya dengan pandangan sinis. Awalnya saya tak merasa. Karena saya bukan anggota jamaah itu. Namun setelah si bapak terus bicara. Menjelekkan jamaah. Dan seperti biasa, setiap selesai bicara, ia melihat sinis ke arah saya. Saya pun paham bahwa saya lah yang beliau maksud. Saya lah yang beliau singgung sedari tadi.

Si bapak mengira jika saya satu jamaah dengan suami ibu muda yang meninggal. Karena secara tampilan saya memang mirip sekali dengan mereka. Jenggotan, dan celana cingkrang. Apesnya, siang itu saya pakai kopiah yang biasa mereka pakai. Komplit lah sangkaan itu. Maka saya pun bicara. Mencoba klarifikasi dan membela diri.

Namun baru sepatah kata yang keluar, si bapak langsung berdiri. Ia murka dan marah. Jarinya menunjuk-nunjuk ke arah saya. Di hadapan banyak orang.

Untungnya di situ ada seorang bapak. Orang una-una. Ia membela saya. Dan mempersilahkan saya bicara.Maka mulailah saya bicara tentang pentingnya ilmu dalam agama. Bahwa semangat beragama saja tidak cukup. bahkan semangat beragama yang tidak disertai ilmu itu berbahaya bahkan bisa menjadi bencana.

Saya pun bicara kaidah kaidah ushul fiqhi dan fiqhi. Bicara tentang kaidah "Kondisi darurat menjadikan yang haram bisa jadi halal". Bahwa babi itu haram, namun jika anda kelaparan di tengah hutan, tak ada makanan kecuali babi , maka makan babi menjadi halal, karena nyawa anda sangat berarti. Sama dengan membuka aurat di hadapan lelaki yang bukan mahram itu haram, namun kalau nyawa terancam dan tak ada cara menyelematkan nyawa kecuali dengan membuka aurat, maka membuka aurat hukumnya menjadi halal.

Tak lupa saya membela jamaah sang suami. Kata saya mereka tak perlu diusir dari Touna, namun cukup disuruh ikut taklim. Belajar fiqhi. Karena problem terbesar sebagian mereka adalah kebodohan akan agama. Dan saya siap untuk mengisi taklimnya, jika tak ada yang bisa mengisi.

Entah berapa menit saya bicara. Si bapak yang tadi marah - marah terdiam menyimak.  Tak ada bantahan sama sekali. semua yang hadir pun diam menyimak. Dan saat saya selesai bicara, ia berdiri, mengulurkan tangan untuk salaman dan meminta maaf.

Saya sudah maafkan si Bapak. Saya pun sangat yakin jika keluarga sudah mengikhlashkan kepergian ibu muda tadi, yang masih kerabat jauh saya. Apalagi meninggal melahirkan itu termasuk mati syahid.

Namun datangnya covid-19 ini seperti membuka kembali luka lama. Mengingatkan saya akan kebodohan yang membawa bencana.

Dan sayangnya kebodohan itu kembali datang dari jamaah yang sama. Sama bodohnya dengan beberapa pejabat yang meremehkan covid 19 sejak awal dan pendeta yang bikin ratusan jamaahnya tertular covid19. Ya, saya tau Anda protes, jangan sebut jamaah, sebut saja oknum, okelah oknum jamaah, meskipun saya lihat oknumnya banyak.

Sudah beberapa pekan ini, beranda dan obrolan di grup whatsapp saya berseliweran video dari oknum - oknum jamaah ini. Mereka tak takut corona. Mereka menganggap bahwa corona tak akan menimpa mereka. Karena mereka orang shalih. Karena mereka dai.

Mereka lupa, atau tak tahu, bahwa generasi terbaik, khairul qurun, sahabat Nabi, semisal Abu Ubaidah bin Al Jarrah dan Muadz bin Jabal radiallahu anhum pun wafat kena wabah.

Yang sangat menjengkelkan, saat puluhan atau mungkin ratusan jamaah ini sudah positif kena covid-19, saat sebagian dari mereka meninggal karenanya, bahkan markas mereka sudah dikarantina. Masih saja ada oknum dari jamaah ini yang ngeyel, kepala batu dan merasa sok jagoan.

Bahkan ada yang berani menyalahkan ulama yang berfatwa untuk tidak shalat jamaah dan jumat di Masjid sampai wabah ini berakhir. Padahal ulama - ulama yang berfatwa ini kelas dunia. Levelnya bukan lagi personal, tapi lembaga semisal al Azhar dan Lembaga Fatwa Saudi. 

Bodoh itu sebenarnya sudah bencana. Tapi tak sadar diri bahwa dirinya bodoh itu lebih besar lagi bencananya.

Maka mohon dengan sangat. Untuk kali ini dan seterusnya, ikuti arahan pemerintah dan fatwa para ulama. Dan jangan pernah bicara agama jika anda tak pernah mondok dan kuliah agama. Apalagi jika urusan itu menyangkut nyawa banyak orang.

Jadikan covid-19 ini pelajaran berharga untuk lebih giat belajar agama. Tafaqquh fiddin. Buat kajian ushul fiqhi dan qaidah fiqhi. Khususnya untuk orang-orang yang diustadzkan. 

Dan jika hari ini atau besok - besok, MUI Touna mengeluarkan himbauan untuk tidak shalat jumat dan jamaah di Masjid. Dan untuk tidak kumpul dan keluar rumah kecuali untuk alasan kebutuhan hidup dan emergency, maka tolong patuhi dan dengarkan. Agar tak ada lagi jatuh korban karena kebodohan.

Dari orang yang mencintai kalian karena Allah

Mohamad Hamdi Mahdin, Lc., S.Th.I
Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Kab. Tojo-Unauna
Lebih baru Lebih lama

ads

Post ADS 1

ads

Post ADS 1